
Getir-getir itu mengalir di urat nadi
Cecunguk-cecunguk bara kembali mengangkangi bumi
Hilang akal dalam sukma tak bertuan
Siapa jati diri ? entahlah
Murka
Atom-atom nelangsa menyeruak bersuara
Berteriak dalam kata suara tak berkata
Bisu...dihembuskan angin sahara nestapa
Saat itu...benakku not waktu tak berdetik
Hilang membias si angkasa jagad raya
Heh....!!! qalbu membidik sukma yang terpaut rindu
Rindu pada kekasih yang dulu
Yang tak henti tuk merayu
Kembali pada pelukan asma yang memadu
Mampukah aku ??
Pantaskah jiwa yang masih terkungkung dalam selaput waktu
Ku berdiri tertatih memandang siluet senja umurku
Kulamun surat cintaMu yang jarang tuk kubalas
Kini tlah tertutup debu di atas sajadah yang jarang kujamah
Enyahlah, aku inginMu...bathinku
Iyyaka...Rabbil Izzati
Kusangkurkan pedang jiwa berlumur dosa
Kolong tanah kini telah menyemburat merah
Menanti, melumat tulang belulang ku dalam akhir yang jadi awal
Tatkala kebisingan berubah dalam senyap sepi
Mampukah aku ??
Dalam lelah menanti
Kujejakkan kaki di onak duri
Mencoba meraih kekasihku yang dulu
Yang selalu ku rindu dalam hati kecil yang sering kusayat
Kekasihku...
Masihkah tersisa cintaMu untukku
Masihkah aku pantas kembali dalam pelukanmu
Dalam selaksa cakrawala kuasaMu
padaMu, aku mengadu
Wahai hati...tidakkah engkau merindu???
Dalam penantian yang tak berakhir...
medan, jum'at 20 agustus 2010, ramadhan 1431 jam 18:13
SAJAK BATU (Iqra’...)

Aku keras, sekeras namaku
Aku adalah mumpuni insan dipahatan bumi asa
Aku ada
Akulah hamba...
Iqra’...aku abdi Tuhan penciptaku
Lalu mengapa beribu insan luluh menjadi abdi seorang abid
Katampik air mata embun yang membasahi ku
“Tuhan....ku tak mau sejajar dalam asmaMu”
Namun hati mereka tetap sekeras namaku
Aku malu...
Namaku batu.

medan, jum'at 20 agustus 2010, ramadhan 1431 jam 18:28








