Kamis, 18 Februari 2016

HATI

Hati, mengapa gundah datang tanpa menyapa
Hati, mengapa cinta datang tanpa keabadiannya
Ia datang pada tanah basah, maka mekarlah bunga
Ia datang pada langit mendung, maka terbitlah pelangi
Ia datang pada hati ku tandus, lalu hilang meninggalkan dahaga dan luka
Yang tersisa hanya kesendirian
Kesendirian yang terkungkung hati yang pilu

Kasih....secepat itu kau berlalu
Bahkan langit masih menyisakan kelabu
Aku sendiri, diam dan hilang
Seperti abu yang tertiup angin

Tertatih aku berjalan
Sayat luka ini semakin pedih
Mulai bernanah hingga ku binasa

Bibir ini kelu terkatup rapat
Ingin ku teriak, Inginku berontak
Namun hanya air mata yang mengalir
Menganak sungai membasahi luka yang menganga
Karena hadirmu, Cinta

Inikah garisku, Inikah hidupku
Mati dalam sebuah pengorbanan
Yang tak kutahu apakah berarti
Bersama denyut jantung yang berhenti
Usailah cinta ini
Berlabuh dalam kehampaan

Kini ku bersimpuh kaku
Terima kasih Kasih
Air mata ini bahagiamu
Aku miliknya, engkau jiwaku
Hidup dalam fana, menjadi tumbal cinta

Terima kasih Cinta
Izinkan ku pergi, meski ku tak rela
Agar terbit bahagia
Anggaplah ku fatamorgana
Biarlah ini menjadi cerita
Dua hati yang tak dapat bersama
Hilang Selamanya.

Medan, 16 Pebruari 2016. Pukul 23 : 43



Powered By Blogger