Kemarin ketika sedang mengajar seorang muridku menanyakan banyak hal mengenai fungsi dari agama dan keimanan. Dan tatkala itu aku menanyakan kepadanya mengapa memilih agama islam yang notabene banyak aturannya dan banyak rangkaian ibadahnya. Mengapa tidak memilih agama lain yang pastinya lebih sedikit rangkaian ibadahnya. Dalam islam saja kita wajib menunaikan ibadah shalat 5 waktu dalam sehari, wajib menjalanka puasa sebulan lamanya dalam setiap tahunnya. Hal itu masih yang wajibnya saja, apalagi bila ada embel-embel rangkaian ibadah sunnahnya. Kemudian muridku tersebut terdiam dan kelihatan bingung dalam menjawab, namun ia tetap yakin bahwa hal itu pasti ada hikmah dan fungsinya. Lalu ia menanyakan kembali mengenai fungsi dan hikmah dari rangkaian ibadah tersebut.
Dengan tersenyum kemudian aku menjawab dengan ilmu seadanya.
"coba perhatikan mengenai rizki yang telah Rabb limpahkan kepada kita, mulai dari dapat bernapas, makan, minum, dapat melihat dan merasakan indahnya ciptaannya. Dan lain sebagainya yang tak dapat kita uraikan...Apakah Allah pernah lupa memberikan anugerah dan rahmatNya yang tiada terhingga kepada hamba-hambaNya ini??"
dengan lugu muridku menjawab, "Tidak"
kemudian aku melanjutkan,
"Nah...Allah saja tidak pernah lupa memberikan rahmat dan rezeki kepada kita. Lalu mengapa kita berani dan tega untuk melupakannya. Bukankah fungsi dari ibadah shalat adalah untuk mengingatnya, bertasbih memujinya, menyerahkan diri kepadaNya. bukankah segala amal ibadah yang kita lakukan merupakan upaya kita untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. Jadi, telah sewajarnya lah kita senantiasa beribadah kepadanya. Bukankah sebenarnya kita telah diberi keringanan hanya diberi kewajiban shalat 5 waktu (dalam salah satu kisah disebutkan bahwa sebenarnya kewajiban shalat pada awalnya adalah 50 kali/hari). Lalu mengapa kita melalaikannya. Bagaimana kalau tiba-tiba Rabb melalaikan hambanNya, lalu ia menghentikan untuk memberi kita napas dan udara dalam waktu 5 menit saja. Maka tentulah kita semua akan binasa. Maka daripada itulah telah sewajarnya kita senantiasa bersyukur kepadanya melalui rangkaian ibadah".
Wahai sobatku, mengherankan rasanya bagiku bila ada manusia yang sanggup menyombongkan dirinya. Merasa dirinya yang terhebat, berkata-kata dengan merendahkan semua orang. Miris rasanya bila aku menemukan orang seperti itu. Akankah ia lupa pada Yang telah menciptakannya dari setetes mani. lalu mengapa ia berani menyombongkan diri. humm...ini juga intropeksi diri bagi kita semua.
Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita merupakan kewajiban kepada kita. dengan menyalurkan nikmat yang telah diberikan kepada jalur yang baik, yang mampu menebarkan kebaikan.
Dalam menjalani hidup ini marilah kita senantiasa bersyukur dan bersyukur. semangat..!!!









2 komentar:
:D
makacih komen nya wi :)
Posting Komentar